Sunday, September 11, 2016

Video Contest: Studie in Holland

Halo semuanya!!! Meskipun belum ada challenge lagi, tapi bukan berarti blog ini mati suri, tunggu aja, challenge berikutnya sedang dalam penggodokan *godok? mi telor kali digodok* *krik*
 
Kemarin-kemarin, atas usul Sakana si ratu kompetisi, kami mengikuti kompetisi video yang diadakan oleh PPI Belanda, tema besarnya tentang Studie in Holland, meskipun kami nggak menang, tapi kami tetep hepi karena bisa meningkatkan eksistensi di dunia maya menuju goal yang utama yaitu #GoInternesyenel *gw ditoyor Sakana, karena  ini mah goal gw doang :)))*
 
Untuk yang penasaran video kami kayak apa, bisa silakan langsung cek video kami, 5 Tips Studie in WUR:



Gw yakin, setelah kalian cek videonya, kalian akan bilang, 'Ohhhh, ini videonya, ya pantes nggak menang....' Bahahahahahaha.

Kalau penasaran, bisa cek juga video dari para finalis lain termasuk sang pemenang, siapa tahu bisa jadi motivasi tambahan ya buat apply kuliah dan beasiswa.

Akhir kata, selamat Idul Adha, jangan terlalu serakah makan gule dan rendangnya, karena segala yang berlebihan itu tidak baik. Ahem.

-cchocomint-

Saturday, July 16, 2016

Challenge in Singapore (ChaSing) ep. 6 - Everyflavours Beans Russian Roulette

Yuuuhuuuu.... para pemirsah yang ga sengaja nyasar ke blog ini....



Setelah 4 bulan lamanya sejak penayangan episode terakhir Challenge in Singapore, akhirnya kita dapatkan juga pemenangnya!!! Tapi sebelum itu, sok mangga yang belum nonton ditonton dulu.







Yak benar sekali, bahwa pemenang kali ini ditentukan oleh pemirsah. Dan...... Sakana lah yang menang, ihiy!!!



Dengan berakhirnya seri challenge season 3 ini, maka kami berdua akan hiatus sementara di youtube buat nyari dana kampanye pemilu challenge season mendatang. Tapi tenang saja, blog ini masih bakalan update (walaupun ga janji) dengan postingan2 ga penting lainnya.



See you again~~~ :D



-Sakana-

Sunday, February 21, 2016

Challenge in Singapore (ChaSing) ep.5 - Cookies Russian Roulette

CHALLENGE IN SINGAPOOOHHH.....CAN LAH!!!

Di episode ke lima kali ini, kami memainkan Cookies Russian Roulette!!!



NOOOO!!!! I am sorry Cookie, but you're not invited, ok?

Begini, Jepang itu kan memang terkenal dengan segala keanehan dan kreativtasnya, nah Cookies Russian Roulette ini dipersembahkan oleh salah satu cookies dari Jepang. dalam satu boks cookies, terdapat 12 cookies, di mana 10 memiliki rasa yang normal dan 2 cookies dengan rasa agak kewasabi-wasabian. Nah, siapa yang mendapatkan cookies tersebut, dialah yang akan kalah. Penasaran? Ini dia videonya...



Nah, paham kan kenapa gw sebut rasanya kewasabi-wasabian? Soalnya rasa wasabinya ternyata nggak terlalu kuat dan nggak merata di semua bagian cookie. Makanya di cookie yang terakhir terjadi polemik dan keraguan, bener nggak sih cookie-nya Sakana memang ada wasabinya?!?!?!?! Mungkin ini salah satu bukti, kalau krisis global masih melanda, cuma bisa kasih campuran wasabi sedikit aja atau orang Jepang sangat pengertian, mereka tahu cookies ini banyak dipake untuk oleh-oleh dan wasabi itu kalau dalam konsentrasi tinggi is such a killer, iya nggak sih? Kalau terlalu banyak makan wasabi, itu sama dengan siksaan duniawi level 9836392.99, tapi cuma berlangsung beberapa detik. Sedangkan kalau terlalu banyak makan cabe, itu jadi siksaan duniawi level 983639.299 tapi berlangsung bermenit-menit. Trade off memang.

Jelas kan, kali ini gw keluar kembali sebagai pemenang!!!! *tabur-tabur confetti* Tapi jangan kemana-mana, karena Challenge in Singapore masih berlanjut.

-cchocomint-

Wednesday, February 17, 2016

Beasiswa Wageningen: ABF

Hellowwww, masih menyambung tulisan yang ini juga yang ini, mari kita melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu ke pelaminan *kode* *masih single* *jaminan mutu* pemberi sponsor alias beasiswa. Seperti yang pernah kami bahas, Sakana dapat beasiswa dari DIKTI yang sekarang sudah tidak ada dan gw mendapat beasiswa dari ABF, yaitu Anne van den Ban Fund. Silakan websitenya dibuka dan dibaca secara khusyuk. Cerita sedikit ya, soalnya gw kagum sama Bapak Anne. Iya Bapak, dese ini laki-laki lho :)))).

Jadi Pak Anne itu adalah Professor sekaligus filantropis, beliau yang mendirikan ABF untuk membantu orang macem gw, yang pengen sekolah di Wageningen tapi kepentok biaya. Orangnya baik, ramah, dan simpatik. Udah tua tapi masih naik sepeda ke mana-mana (pas gw kuliah di sana sih begitu, entah sekarang), semoga beliau panjang umur, eymin!!

Gw mau cerita sedikit mengenai beasiswa ini (kalau nggak males, mau cerita soal beasiswa lainnya yang gw tahu, kalau nggak males lho ya. Pemirsa jangan terlalu berharap, hehehehehehe...). Pertama, mau disclaimer dulu ya, kami ini kuliah di WUR tahun 2011, boleh jadi sudah banyak syarat yang berubah, dan jujur, gw lupa-lupa inget syaratnya apa aja *toyor*

Baiklah, off we go…

LoA
Untuk poin yang ini gw yakin. Sebelum apply beasiswa ABF, pastikan kalian sudah memiliki LoA alias Letter of Acceptance, yang artinya kalian sudah diterima di salah satu program di Wageningen University and Research Center (WUR).

ABF aplikasi
Prosedurnya simpel, at least waktu jaman gw. Kalian cukup kirim email dengan attachment berupa:
- Application form (didapat setelah gw mengontak contact person bahwa gw tertarik untuk apply)
- Reference letter
- Motivation letter
- CV

Menunggu
Iya, udah gitu doang. Nunggu, berdoa, pasang sajen, pake pelet, pergi ke dukun. Silakan dilakukan jika dirasa perlu.

Pengumuman
Mereka mengumumkan dalam berapa tahap (ingat, ini pas jaman gw yak). Dari semua aplikan, mereka saring jadi 29 besar, setelah itu 12 besar, lalu jadi 5 orang penerima. Ini bagian paling syaiton karena deg-degan abis. Lo dapet email berkali-kali dan setiap buka rasanya jantung mau copot *lebay sih*

Setelah gw cek, gw masih simpan email-email jaman apply secara paripurna. Di sana disebutkan bahwa kriteria pemilihan berdasarkan:
 - Academically classification
 - References
 - CV (including working experience)
 - Motivation
 - National Income on your country
 - Other sponsors or own contribution
 - Opportunities to apply to other sponsor organizations working in your country

FAQ

Sekali lagi, ini berdasarkan pengalaman gw apply tahun 2010. Perubahan sangat mungkin terjadi. Pelajari websitenya, tanya kontak personnya jika dirasa perlu.

Beasiswa ABF ini mencakup apa?
Beasiswa ini HANYA mencakup biaya hidup. Iya, biaya hidup per bulan.

Terus tuition fee gimana?
Nah, kalau gw, tuition fee dapat dari Universitas. Kalau kita mengacu ke poin nomor 6 di atas, disebutkan ‘other sponsor.’ Jadi ketika sang aplikan bisa mendapat sponsor lain (dalam hal ini beasiswa dari Universitas untuk mengover tuition fee), maka kemungkinan mendapat beasiswa ini semakin besar. Kalau menurut analisis awam gw, target beasiswa ini adalah mereka dari negara dunia ketiga yang memang dirasa perlu beasiswa untuk melanjutkan studi di sana. Jadi kalau hanya mendapat partial scholarship (eg. cuma dapet tuition fee saja atau dapat living allowance saja), mungkin tetap nggak akan bisa lanjut sekolah. Gw ngomong untuk kasus Belanda secara umum dan WUR secara spesifik ya, kenapa? Karena kalau kasus ini terjadi di Jerman, gw dapet partial scholarship untuk living allowance, gw akan tetap bisa berangkat karena tuition fee di Jerman murah nggak kira-kira (beberapa malah masih gratis), lebih murah dari pada kampus-kampus di Indo, coba cek sana gih (Oh, Deutschland über alles *senderan di dada Mats Hummels*

Tiket pesawat?
Beli sendiri. Pokoknya duit tabungan jaman kerja habis buat beli tiket pesawat *curhat*. Jadi Beasiswa ini memang hanya mengover living allowance (oia, juga asuransi), ga ada settlement awal, uang buku, dan komponen lainnya seperti itu. ABF bukan lembaga besar kayak STUNED, DIKTI, dsb, ya namanya juga organisasi kecil yang diinisiasi kebaikan hati seorang profesor :’) *bijak*

Repot banget dong musti apply juga buat beasiswa dari Universitas?
Nggak kok. Untuk universitas nggak perlu apply. Menurut penerawangan gw, pihak Uni dan ABF saling komunikasi dan tukar informasi siapa kandidat yang paling pas.

Apply apa jangan?
Apply aja, untuk memperbesar kemungkinan. Meski hanya mengover living allowance, tapi kan kalian udah liat, gw survive lahir-batin, hidup baik-baik aja, dan tetep pinter kok masih bisa jalan-jalan juga *kalau kalian khawatir nggak bisa jalan-jalan* dan sedikit nabung. Lagi pula sekarang udah 2016, mana tahu banyak policy yang berubah dan lebih banyak donatur yang bisa bikin coverage beasiswa jadi lebih baik. Kalau pun pada akhirnya keterima beberapa beasiswa, kalian bisa mundur dari beasiswa ini dan ambil yang lain.

Akhir kata selamat mencoba, may the force be with you!!

-cchocomint-

Thursday, February 11, 2016

Challenge in Singapore (ChaSing) ep.4 - Cola Russian Roulette

Hai... hai....

Masih inget ga gimana tantangan ChaSing yang pertama gagal maning dan berakhir dengan cepat? Ga inget? Ya udah sok mangga atuh ditonton lagi.

Udah nonton?

Apa? Belum?

Hayu sok ditungguin nontonnya.
.
.
.
.
.
.
.
Yak, di tantangan pertama mendapatkan mukjizat dengan mendapatkan telur mentah 3 kali (nyaris) berturut-turut. Nah, kali ini si cchocomint yang bakalan kena karmanya. Penasaran kan apa karmanya? Makanya nonton dulu dong episode ke-4 ini.....


HA
HA
HAHAHAHAHA..... Rasakan karma mu cchocomint!

Luar biasah emang berkat God's Hand ala cchocomint, tantangan ke-4 ini berakhir dengan sangat singkat! Yah.... walaupun gw kena juga sih cola yang dicampur saus tiram.....

Dari tantangan ini kami berdua menarik kesimpulan bahwa: barang siapa yang kena Russian Roulette dua kali berturut-turut, maka niscaya dia akan jadi pilon.

Masih akan ada tantangan-tantangan ga penting berikutnya. Jadi jangan lupa subscribe channel yotube-nya dan follow blog kami ini yaaaa.... :D

-Sakana

Tuesday, February 2, 2016

Challenge in Singapore (ChaSing) ep.3 - Face Stuffing (Wannabe)

Oke, challenge masih berlanjut!! Game on!!
 
Di tantangan ketiga kali ini, kami sudah pindah lokasi ke suatu taman dengan pencahayaan #rhyme.
 
Masih terinspirasi dari salah satu episode Jimmy Fallon yang berjudul Face Stuffing Challenge. Lha kok di ChaSing ada wannabe-nya? Yaiya, soalnya dari makanan yang akan kami makan, nggak ada satu pun yang cara makannya dilakukan dengan menenggelamkan muka ke dalam makanan. Kurang lebih kek gambar di bawah ini (yang sebelah kiri ).
 
pic from here
Yang bener aja jek, nanti lipen kita yang (sama sekali nggak) paripurna bisa ilang dong!!! Akhirnya metoda makan dilakukan secara lebih elegan..hahahahahaha.
 
Kek gimana challengenya? Seperti biasa, gw dan Sakana akan berlomba memakan suatu makanan dengan cara yang unik selama sepuluh detik *iya, sepuluh detik udah lebih dari cukup*, setelah itu akan dicek, siapa yang bias menghabiskan makanan paling banyak. Pertama, kami akan makan coklat  M&M dengan sumpit, makan saos tomat dengan sedotan, dan makan nasi menggunakan telunjuk. Mau tau siapa yang lebih jago? Cek langsung video berikut ini...


 
Sakana memang lebih jago nyedot saos tomat (yang rasanya iyuh!), tapi gw lebih mantap urusan nyerok nasi pake jari telunjuk, namun, nyatanya, kami sama-sama jago nyumpit coklat M&M, walhasil tantangan kali ini kami pun seri!!!
 
Hikmah dari tantangan kali ini, kami jadi tahu bahwa saos tomat memang baiknya hanya jadi pelengkap makanan lain. Misalnya jadi cocolan kentang atau nugget goreng, bisa juga dicampur ke kuah baso atau indomie, tapi sama sekali nggak disarankan untuk digado. Kalau mau ngegado, lebih baik gadoin Knorr kaldu blok rasa Tom Yam, itu mantap!!
 
Selamat merayakan CNY bagi yang merayakan, enjoy your holiday, semoga tahun baru monyet emas jadi berkah untuk semua. Yeah!!
 
-cchocomint-
 


Monday, January 25, 2016

Panduan Apply Master ke Wageningen University (dan Universitas di Luar Negeri Lainnya)

Challenge in Singapore masih berjalan, tapi gw mau ngomong hal yang serius, ahem. 

Sama halnya seperti kami (cchocomint dan sakana), pasti banyak banget di antara kalian yang punya cita-cita untuk bisa bersekolah di luar negeri, entah dari jenjang S1 atau jenjang yang lebih tinggi. Alasannya pun macam-macam:
- supaya bisa membangun negeri ini jadi lebih baik *motivasi ini terasa 100% sebelum kalian meninggalkan NKRI tercinta, ketika kuliah kelar langsung drop sekitar 20%, nggak mau pulang shhayyyy :)))))*, 
- supaya bisa go internesyenel (macam kami ini lah...), 
- karena kulitas pendidikan di luar lebih baik, 
- untuk memperkaya diri dari segi kultur atau supaya bisa parti dan tipsy tiap hari tanpa ada yang larang-larang, wakakakakaka. 

Boleh...... semua sah-sah aja. Untuk yang orang tuanya punya rejeki lebih, you only need to secure one thing: LoA (Letter of Acceptance), then off you go. Untuk yang rejekinya pas-pasan (baca: kami dan banyak orang lainnya), LoA tuh tiket awal sahaja karena masih ada hal lain yang nggak kalah pentingnya: mencari si pemberi dana alias beasiswa.

Masalahnya, banyak yang PENGEN bersekolah ke luar negeri, tapi nggak semua yang pengen sekolah ke luar negeri RELA untuk mencurahkan energi, usaha, dan biaya (tes TOEFL nggilani mahalnya sekarang) untuk mengejar apa yang mereka mau. Dalam usaha melakukan perjalanan ke barat (bukan untuk mencari kitab suci), gw menyadari bahwa sesungguhnya ada 3 tipe orang yang bisa mendapatkan beasiswa untuk sekolah ke luar negeri: 1) Orang yang pinter gila, ga perlu nyari pun udah disodorin beasiswa; 2) Orang yang beruntung dan pintar, sekali daftar langsung dapet; 3) Orang yang gigih nyari beasiswa, tidak gampang menyerah meski berkali-kali ditolak dan instropeksi untuk perbaikan apply beasiswa yang berikutnya. Gw masuk ke golongan yang ke-3.

Gw dan teman-teman lain cukup sering dapet email/mesej/etc mengenai sekolah di luar negeri, kami mau nolong, sangat mau. Kami seneng ketika beberapa bulan setelah email-emailan/ngobrol,  orang tersebut datang dengan membawa berita bahwa dia lolos dan akan berangkat ke luar negeri, priceless. The thing is, there’s only so much that we can do to help, we only help to certain extend. We DO know when people ask because asking is a part of their effort or simply because they’re too lazy to put more effort in helping themselves. If you are not willing to help yourself at the first place, why expect anybody else to do so? Ibarat ayat suci, Tuhan aja nggak mau ngubah nasib suatu kaum kalau mereka nggak berusaha untuk berubah, ye nggak? Edan pake dalil, dalil nggak bisa dilawan *pasang cadar*

Sama aja kayak traveler, gw sering baca tuh curhatnya TrinityTraveler, banyak yang datang sama dia dengan pertanyaan, ’Saya pengen pergi ke [insert nama negara] gimana caranya?’  Dude, she’s a traveler, not travel agent. So am I and my fellows, we happened to be students, but we are not international student placement service.  Do your homework and we're happy to be part of it, but don’t hand your homework to us in order to finish it for you.

Oke, sekarang kita ngomongin apa yang biasa disiapin kalau mau kuliah ke luar negeri. Sebenernya bahasan kayak gini pasti udah banyak di mana-mana. Ditulis lebih terstruktur dan komprehensif daripada tulisan ini, pastinya :))). Kemungkinan kalian bisa nyasar baca postingan ini lantaran lagi nyari-nyari info buat studi ke Wageningen. Sebagai self-proclaimed WUR ambassador, maka pada beberapa poin akan dikhususkan untuk apply sekolah ke WUR. Harap dicamkan, gw nggak akan dan nggak akan pernah ngasih tulisan berupa tips SUKSES mendapatkan beasiswa. For me personally, there is no such thing. Too many factors involved, luck, random event, the selection panel, the competitors, etc. Mirip lah kayak SPMB, you’re good, but how if others are exceptional? 

Anyway, please brace yourself as this post is TL:DR.

1. Tentuin jurusan
Ini PR paling dasar tapi kadang paling malas dikerjakan. Kenapa? karena banyak yang tujuan utamanya hanyalah bisa pergi ke luar negeri (nggak ada yang salah kok dengan tujuan itu), terus nggak tahu dan nggak mau nyari tahu harus ngambil jurusan apa supaya bisa berangkat ke luar negeri. Nggak sedikit yang datang dengan pertanyaan pengen S2 di luar tapi nggak tahu mau pilih jurusan apa. Lha, kalo ente nggak tahu, gimana gw bisa tahu? Background education kalian apa? Masih mau 100 % linear dengan itu atau mau deviasi dari itu? Terserah. Kampus pun punya kekuatan masing-masing, ada yang kuat di natural science, engineering, social science, art & humanity, etc. Cari tahu juga soal hal ini. Lo pengen kuliah engineering tapi kekeh pengen ke Wageningen misalnya, ya Jaka Sembung bawa golok, tuh ada TU-Delft, Eindhoven, Groningen, atau UNESCO-IHE.

Di WUR ada jurusan apa aja? Nih, baca aja sendiri di page ini. Mana yang paling menarik/cocok untuk minat kalian. Kalo ternyata ada lebih dari satu jurusan yang kalian pengen, silahkan klik nama jurusannya. Di sana akan ada keterangan lebih lanjut mengenai masing-masing jurusan. Mulai dari deskripsi jurusan, spesialisasi, cara daftar, contact person, sampai pembanding dengan jurusan lainnya. Percayalah, itu isinya komplit banget kalau kalian istiqomah membaca semua keterangan yang ada di sana. Oh iya, di beberapa jurusan di WUR ada yang namanya spesialisasi. Saran kami sih ga usah bingung dulu mau ngambil spesialisasi apa. Itu ditentuinnya ntar aja kalau udah nyampe sana. Bakal ada study adviser yang bakal bantuin ngejelasin.  

Butuh kejelasan course yang ditawarkan dan silabus? Bisa baca di sini. Silahkan ubek-ubek sendiri sesuai jurusan yang diminati. Please jangan minta kami yang nyariin buat kalian. Beberapa fitur cuma bisa dibuka kalau kalian punya wur account. Gimana dapet wur account? Harus terdaftar dulu jadi mahasiswa wur.

2. Cek persyaratan
Ini PR nomor 2, pertanyaan,’Gw pengen kuliah [insert nama jurusan dan kampus]  gimana caranya?’ *kayak pertanyaan tentang traveling* seriiingggg banget keluar. Lebih sering dari poin nomor 1. Admission procedure selalu ada di tiap website universitas, maksud gw, SELALU ADA. Ibarat Syahrini, terpampang nyata kelez! Kalu baru nyari admission procedure via internet yang tinggal duduk sambil klik sana-sini aja udah males dan nyerah, gimana ngadepin masalah sebenernya ketika lo beneran jadi berangkat? *ya kalau jadi berangkat*  Mau telpon emak nyuruh dese datang A.S.A.P? Kalo ente di Europe gimana ceritanya? Europe-Indonesia bukanlah Bandung-Garut. Atau mau nangis meraung-raung di dada Adam Levine? Dih, mana bisa?! Jangan harap!!! Adam Levine hanya milikku seorang, camkan itu!!

Kalau bingung, cobalah pake search engine di website universitas tersebut, pasti ada, biasanya simbol berupa kaca pembesar *nrit, sampai gw jelasin*. Ketik coba ‘admission procedure’ atau ketik apa pun yang kira-kira lo butuhkan. Syarat tiap kampus boleh jadi berbeda-beda, tapi ada syarat yang kurang lebih universal, di mana-mana sama.

Gimana dengan persyaratan di WUR? Nih, sok mangga baca di sini. Setelah paham dan yakin mau lanjut sekolah di WUR, bisa baca tahapan aplikasinya di sini. Udah lengkap banget dan ga ribet. Kuncinya hanyalah iqro alias membaca. Oh iya, semua proses di WUR dilakukan secara online tanpa ada ujian/tes masuk dan ga perlu nyari dosen WUR untuk minta rekomendasi. 

a. English proficiency test
Biasanya cukup fleksibel, bisa TOEFL atau IELTS, mending yang mana? nggak tahu, preferensi orang bisa beda-beda. Dulu gw ngambil TOEFL-IBT karena mendadak banget gw musti ngambil tes ini, slot yang nyisa cuma TOEFL-IBT, itu pun di Jogja, gw tinggal di Bandung. Harga? miriplah antara IELTS dan TOEFL, meski IELTS lebih mahal sedikit. Remarknya biasanya ada di speaking section. Di IELTS lo ngobrol sama orang, bisa bikin grogi tapi saat lo nggak paham lo bisa bilang,’Pardon?’ atau berusaha me-rephrase, ’So, you implied that blablablabla, right?’ Di TOEFL-IBT, lo ngomong sama mesin perekam, lo miss atau budek, tamat sudah, silakan ngomong semau-maunya daripada nggak ngomong sama sekali.

Berapa skor yang dibutuhkan? At least 550 atau 80 untuk IBT. Skor ini standard minimum, biasanya ini syarat minimum jurusan IPA, untuk jurusan IPS, mereka lebih demanding, ya wajar, kalian akan lebih banyak nulis dan ngowos, makanya mereka minta lebih. Kadang mereka bukan hanya minta skor akhir, tapi per section, misal IELTS minimal 7 dan writing section tidak kurang dari 6.5. Itu dia kenapa cek website universitas yang bersangkutan menjadi penting, karena lo perlu tahu apa yang universitas syaratkan.

Untuk di WUR, persyaratan skor English Proficiency Test bisa dibaca di sini. Baca baik-baik karena ada keterangan TOEFL code khusus WUR di situ biar hasil tes bisa langsung dikirim ke mereka.

Saran dari Sakana: supaya aman dan skornya bisa dipake sapu jagat (ga mau rugi lantaran harga tes-nya mihil bingits!), cek masing-masing persyaratan skor TOEFL atau IELTS dari semua sekolah dan beasiswa yang akan kalian lamar. Tentukan skor yang tertinggi dan jadikan itu target kalian. Semisal WUR minta skor TOEFL iBT untuk calon mahasiswa non-EU sebesar 80, sedangkan dari beberapa pilihan beasiswa, ada yang minta skor 79, 80, dan 87. Nah, jadikan skor 87 itu target pencapaian TOEFL iBT kamu.

b. Motivation letter
Ini biasanya berisi karangan dan kibulan penjelasan kenapa kalian ingin melanjutkan kuliah di kampus tersebut/di jurusan tersebut/di negara tersebut. Apa outcome yang diharapkan dan ke depannya rencana kalian apa sih. Duh kok mumet ya? Ga usah mumet, googling lah niscaya semua menjadi lebih mudah. Tapi jangan lupa, gugling itu sebagai contoh dan referensi, tetep sesuaikan dengan keadaan kalian. Ibarat kata, mau nyontek juga tetep musti pake akal.

Saran dari Sakana: Nama pun motivasi, pasti akan lebih baik kalau ada unsur-unsur personal. Ga perlu lebay kayak kalian pengen belajar molecular life science demi menemukan obat kanker lantaran ada saudara yang meninggal gara-gara kanker. Ga perlu sampe segitunya. Dulu di motivation letter gw nulis tertarik bidang molecular nutrition gara-gara pernah diminta jadi MC untuk seminar ilmiah tentang itu. Ga lebay, tapi ada unsur personalnya. Trus tinggal kasih embel-embel fakta yang tertulis di info tentang jurusan, kayak WUR tuh punya master program Nutrition and Health terbaik se-Eropa. Nah... ga percuma kan istiqomah baca keterangan tentang jurusan :)))  

c. Legalized transcript and degree certificate
Gampang sih ini, pasti kampus sudah menyediakan, jangan lupa yang dipake versi Bahasa Inggris ya shayyy.

Ini bagian lumayan tricky sih, karena kadang ada yang bilang bahwa GPA-nya kurang dari yang disyaratkan, masih ada chance-kah untuk keterima? Sejujurnya, gw nggak tahu. Tapi logika sederhananya, ketika lo kurang di satu aspek, coba tonjolkan aspek lain. Misal GPA kurang, tapi hasil IBT 119 atau pengalaman kerja sangat mendukung dengan referensi mumpuni. Cus lah!!  

Nah di WUR udah ada dokumen pdf khusus yang lebih menjelaskan persyaratan IPK untuk calon mahasiswa asing, termasuk Indonesia. Semisal nih, di syarat kan kudu IPK 3,0, tapi kalau kalian lulusan universitas top di pulau Jawa (macem ITB dan IPB), maka IPK 2.8 pun punya kesempatan untuk diterima. Lulusan D4? Bisa juga lho ternyata untuk daftar.  

d. Recommendation letter
Bisa dari dosen atau dari bos di tempat bekerja. Kadang beliau-beliau ini sudah punya template tersendiri dalam memberi surat rekomendasi, tapi ada juga beberapa yang saking sibuknya nggak sempat untuk bikin surat rekomendasi. Pada akhirnya kalian yang musti bikin lalu tinggal minta tanda tangan yang bersangkutan. Tips? 1) Google 2) jangan terlalu memberi sanjung puja-puji pada diri sendiri, boleh lah kasih pujian, tapi tetap modest. 

Sakana confession: gw pernah bikin surat rekomendasi supaya dosen bisa tinggal langsung tanda tangan. Tapi karena bingung mau nulis apa, akhirnya sebagain besar yang gw tulis adalah trait dari zodiak gw, hahaha. 

Oh iya, ada juga beasiswa yang punya template surat rekomendasi sendiri. Jadi harus dibaca baik-baik surat rekomendasi yang diminta yang gimana. WUR sendiri TIDAK mensyaratkan untuk melampirkan surat rekomendasi pada saat mendaftar, baik dari dosen S1 maupun dosen WUR.  

e. GRE/SAT/etc.
Ini tipikal universitas di Amerika dan juga Singapura (Australia juga kah?), gw nggak familiar dengan ini karena universitas di Eropa biasanya tidak mensyaratkan hal ini. Sekali lagi, cek website uni yang bersangkutan.

f. Other language proficiency test
Misal universitas tertentu mensyaratkan basic proficiency untuk bahasa tertentu, Prancis, German, atau Swahili. Tegantung lokasi lah. Untuk keseribukalinya, cek website uni yang bersangkutan. Tenang, di WUR (dan universitas Belanda lainnya) ga mensyaratkan bisa bahasa Belanda karena semua master program di Belanda diberikan dalam bahasa Inggris (bahkan untuk mahasiswa Dutch). 

3. Tebar jaring
Jangan terlalu saklek, misal dari dulu gw selalu pengen ke Jerman. Jerman, Jerman, Jerman!! Deutschland über alles!! Tapi ya gw terdampar di Belanda, which turned into priceless experience.

Lalu dalam perjalanan gw dulu apa gw mengontak orang untuk nanya? Iya dong, but I made sure that I did my homework. Riset dulu, baca sana-sini, sampai akhirnya buntu dan ada pertanyaan yang ga bisa ke jawab, baru gw tanya. salah satu orang yang pernah gw kontak adalah Mas Tio (di blognya banyak info tentang beasiswa lhooo), ndilalahnya simas ini jadi tetangga kakak gw ketika sedang sama-sama di Sweden, what a small world ga sih? :)))

Akhir kata, selamat mencoba dan berusaha. Kami siap menjawab pertanyaan sepanjang pertanyaan itu bagian dari usaha kalian, dan bertanya bukan karena kalian terlalu malas berusaha.


Cheers,

Cchocomint & Sakana